Uang Kertas Berisiko Tinggi Sebarkan Covid-19 ? Simak Penjelasan Pakar

154

 JAKARTA– Sejak pandemi virus Corona banyak orang lebih memilih melakukan pembayaran non-tunai ketimbang memakai uang kertas. Sebagian besar restoran dan toko pun mengimbau para pelanggan membayar belanjaannya dengan kartu kredit, debit, atau aplikasi uang elektronik.

Bahkan sejumlah negara sempat menarik peredaran uang kertas selama dua minggu di awal merebaknya pandemi virus Corona pada Maret 2020. Uang-uang tersebut didisinfeksi hingga beberapa ada yang dibakar demi mecegah penyebaran COVID-19. China pun melakukan hal serupa pada Februari 2020.

Hal ini dipicu kekhawatiran kalau uang kertas bisa jadi sarana penyebar virus maupun bakteri karena banyak berpindah dari tangan orang yang satu ke tangan lain. Jadi bukan tidak mungkin virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 juga bersarang di permukaan uang tunai, khususnya uang kertas.

Lantas, benarkah uang kertas berpotensi menyebarkan virus Corona, dan seberapa kotor permukaannya?

Profesor Mikrobiologi dan Pathologi dari Grossman School of Medicine, Universitas New York Philip M. Tierno menjelaskan bahwa manusia dikelilingi mikroba setiap waktu dan mustahil bisa terhindar 100 persen dari itu. Sebab mikroba ada di sekitar kita dan semua benda yang kita pegang, termasuk uang.

Maka bukan tidak mungkin uang kertas bisa jadi sarang virus dan bakteri karena tentu banyak dipegang atau disentuh orang. Kesimpulan ini didukung hasil penelitian di Center for Genomics & System Biology yang dilakukan pada 2014.

Para peneliti berhasil mengidentifikasi, sedikitnya ada 3.000 tipe bakteri di permukaan uang kertas yang berasal dari bank Manhattan. Mikroba ini termasuk bakteri penyebab keracunan makanan, infeksi bakteri staphylococcus, maag hingga pneumonia.

Dari mana mikroba berbahaya pada uang ini berasal?.

“Umumnya manusia menyebarkan bakteri dari tiga area tubuh – sekresi pernapasan dari hidung dan mulut, organisme kulit dan kotoran. Sebagai masyarakat, sebenarnya kita bermandikan feses,” tutur Philip, seperti dikutip dari Huffington Post.

Untungnya tidak semua mikroba bersifat pathogen atau merusak. Selain itu manusia memiliki sistem imun yang akan melawan infeksi. Terlebih lagi, diperlukan jumlah organisme cukup banyak untuk bisa menyebabkan infeksi, tergantung dari jenis pathogen.

Untuk kasus virus Corona, Philip mengatakan hingga saat ini para ilmuwan masih mempelajari berapa banyak partikel virus yang diperlukan untuk bisa menginfeksi seseorang. Tapi yang jelas semakin lama uang kertas beredar di luar maka semakin banyak pula jumlah mikroba karena berarti lebih sering juga uang tersebut berpindah tangan.

“Uang kertas baru masih punya substansi antimikroba, jadi lebih kecil kemungkinannya menyimpan mikroba. Tapi seiring bertambahnya waktu, makin tua usia uang itu, maka kemumgkinan lebih banyak mikroba di dalamnya. Panas dan lembap juga berpengaruh,” terangnya.

Jadi bisa dikatakan uang kertas yang beredar di pasar tradisional, pedagang kaki lima atau penjual jajanan pinggir jalan akan lebih banyak menyimpan bakteri ketimbang uang yang baru keluar dari bank. Sebab lingkungan lembap dan berminyak menjadi sarang bakteri dan virus untuk berkembang biak.

Selain mikroba, pada uang kertas juga terkadang ditemukan jamur, DNA hewan, dan partikel makanan. Jadi ada baiknya jika kamu mencegah penularan penyakit dengan memakai hand sanitizer atau cuci tangan setelah memegang uang kertas. Terutama pada masa pandemi COVID-19, di mana penyebaran virus bisa terjadi di mana saja.

“Uang kertas sebenarnya bukan kanal terbesar penyebab infeksi, tapi benda apapun yang sering disentuh oleh berbeda-beda orang, seperti ponsel kamu, bisa jadi masalah,” ujar Philip.

 

Sumber: detik.com